Friday, 26 December 2014

# Cerpen

Riak Kecewa Prita ~



“Cinta itu omong kosong, hanya alasan yang dibuat oleh manusia untuk menyakiti dan meninggalkan seseorang mengatasnamakan cinta…”

            Pagi kelabu. Tak ada yang istimewa pagi itu, meski ucapan selamat ulang tahun serta doa terus mengalir dari keluarga dan teman-temannya. Hampa, tak ada yang mampu membuatnya tersenyum walau hanya senyuman kecil disudut bibir yang meski dipaksakan. Rambut pendeknya yang lurus tersapu angin, wajahnya pucat pasi, giginya mengeluarkan gemerutuk pelan. Ditariknya nafas perlahan berharap mendapatkan sedikit kelegaan diantara sesak di dasar jiwanya.
            Telepon genggamnya sedari tadi berdering, sebuah panggilan masuk. Namun, ia enggan menjawabnya. Ia hanya menatap nanar panggilan yang masuk, nama yang tertera di sana membuatnya tak berselera berbicara. Adi. Beberapa kali telepon genggamnya masih terus berdering, berharap tangan mungil milik Prita menekan tombol dan berkata “Halo”. Sayang, Prita tak kunjung jua menjawab teleponnya, dia malah mengambil sebuah buku dan dengan santai membacanya.
            “Jangan salahkan aku. Ketika wanita sudah enggan menjawab telepon, dan membalas pesan singkat itu berarti wanita sudah tidak respect lagi denganmu lelaki. Berhentilah menghubungiku karena itu hanya akan mengangguku”, Ujar Prita senewen, ia masih saja menatap nanar telepon genggam miliknya. Disudut matanya nampak butiran-butiran airmata siap luruh kapanpun. Prita tak ingin menangis pagi ini, masih terlalu pagi untuk meratapi nasib hatinya yang terabaikan.
            Hatinya masih terasa sesak. Ketika mengulang kembali memori lalu tentang mereka, dia dan Adi. Prita menggigit bibirnya pelan, dadanya semakin sesak menahan kekecewaan atas pengharapan yang tergantung di pundak Adi yang dengan mudahnya disia-siakan Adi.
“Adi, tahukah kamu seberapa besar harapan yang telah kamu goresan di hati dan pikiran ini? Sehingga membuatku percaya dan dengan senang hati menggantungkan harapan akan masa depan di pundakmu. Dan sekarang kamu meninggalkanku begitu saja dengan tiba-tiba hingga hati ini benar-benar terguncang dan tak siap menerima kenyataan pahit”, Prita masih tertunduk lesu di kamarnya, lampu dibiarkannya saja menyala, buku-buku berserakan di tempat tidur, dan laptopnya ditelantarkan begitu saja tanpa ia sentuh sedikitpun. Pikirannya kalut, bukan karena hal lain. Hanya karena lelaki bernama Adi yang sejak berhari-hari lalu terus membayangi pikirannya. Lelaki yang membuatnya terus bertanya apa kesalahan yang telah ia perbuat lagi sehingga dengan mudahnya Adi melenggang bebas meninggalkan Prita dan cintanya.
Prita tetap bersikukuh tak ingin menjawab telepon Adi. Baginya mendengar suara Adi hanya akan menyulut emosinya belakang. Ingin rasanya Prita mengumpat Adi dengan kata-kata kasar yang sudah tersusun rapi diotaknya, namun ia menggurungkan niat itu. Baginya itu hanya akan memperkeruh suasana. “Dengan ataupun tanpa kamu, aku kan tetap melanjutkan hidup dan mewujudkan impian yang telah lama aku bangun!”. Prita beranjak dari kamar tidurnya , menatap cermin dan melihat dalam sosok di cermin, sosok dirinya. Sosok dirinya yang kini semakin kurus, sosoknya yang tengah diliputi kekecewaan yang sangat.
“Tak ada alasan. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia tak akan meninggalkanmu sendirian di belakang tanpa pamit, dan tanpa alasan”, ungkap Prita sembari menatap cermin, ia berusaha menyunggingkan seulas senyum yang tertahan, sangat tertahan. Prita ragu-ragu tersenyum antara yakin dan ragu apakah ia akan benar-benar dapat bangkit tanpa ada Adi lagi disisinya. Adi yang dahulu selalu menemani hari-harinya, Adi yang selalu menemani ia makan siang, Adi yang selalu mengusap airmatanya disaat ia bersedih, Adi yang selalu menolongnya dengan sigap. Adi, dahulu.
“Terimakasih sudah meninggalkanku dibelakang, sendiri. Terimakasih untuk kado ulang tahun darimu yang sangat menyakitkan. Terimakasih untuk harapan-harapan palsu yang selama ini telah engkau tanam. Terimakasih, terimakasih, terimakasih Adi. Aku kini paham bahwa sebenarnya kau tak benar-benar mencintaiku…”. Pagi kelabu, dan airmata Pritapun tak mampu lagi terbendung. Mengalir deras bersama hujan di akhir Desember.

Echi Sianturi
Teruntuk wanita yang pernah kecewa dengan cintanya

No comments: