Sunday, 4 January 2015

# Prosa Singkat

Isyarat Hati~



Kita seperti sedang perang dingin!
Kau dan aku seperti layaknya dua kubu yang saling berseberang, sangat. Beragurmen dalam diam nan dalam. Senyap namun diam-diam terbongkar suatu rasa yang terkunci rapat di mulut, yang hanya mampu terlontar melalui untaian sederhana yang begitu jujur. Kata yang selama ini terus menari-nari didalam otak, kata yang sudah tak tertampung untuk disampaikan.
Aku tahu. Aku diam-diam selalu mengamatimu. Mungkin kau pun menyadarinya, ketika kau menuliskannya kau berharap aku membaca dan dapat menerka maksudmu. Meski kau tetap bungkam tak bergeming dari ruang 3x4 meter itu. Dunia barumu yang tak kuketahui wujudnya lagi. Ada harapan-harapan dan kurasa ada getir dalam setiap kata yang kau tulis. Kata yang kau ungkap, kata yang membuatku terenyuh sesaat dan tanpa sadar menitikkan airmata. Tak ada rasa benci dan dendam yang berarti dalam hati ini, sungguh.
Pohon Oak yang kau sebut-sebut itu. Pohon yang menjadi naunganku pula. Batangnya yang kokoh menjadi pelindung dalam senyap yang semakin menggelayuti hati. Diam, meski diam seribu bahasa. Tak ada satu kalimatpun yang terlontar. Tak ada kata maaf ataupun ungkapan-ungkapan penyesalan dariku untukmu. Aku lebih memilih diam seolah tak mengindahkanmu sama sekali. Wanita begitu sulit dimengerti, begitulah menurut sebagian besar pria. Anggapan itu tak salah. Ada sisi lain yang mungkin tak akan pernah mampu pria selami.
Aku sudah memilihmu. Dan aku akan terus setia dengan pilihan itu. Bersama dengan pilihan walau seiring dengan bergulirnya waktu semakin banyak pilihan lain yang silih berganti menghampiri. Hanya kamu, sudah kamu seutuhnya yang menetap di hati. Suatu hari, suatu hari nanti pilihanku akan menemukan titik temu. Dimana pilihan, ketetapan hati tak pernah salah. Walau jalan yang tlah dilalui banyak yang menyimpang, banyak yang diluar logika. Tak ada yang dapat menghakimi yang lalu.
Aku tahu, dan benar-benar mengerti bahwa tak selamanya yang ingin bersama dapat bersatu selamanya. Ada hal lain yang harus didahulukan lebih dari apapun. Hati dan cinta. Rasa dan semakin mengakar dihati ini setiap detik tak pernah luruh. Ada sesak, ada rindu dan tangis. Ketika asa dalam angan tak mampu diraih. Menggengam erat tanganmu layaknya sebuah mimpi indah, bunga tidur yang hanya mampu dikecap bersama malam-malam yang sunyi. Ingin kuraih kembali masa itu, masa dimana tak ada jarak yang terpaut begitu jauh. Cinta tak serumit ini sebelum aku mengenalmu.
Angin, hujan, detak hangat nafasmu seolah ada disampingku. Nafasmu mampu kurasa, hangat hempusan nafas yang menerpa kulitku. Menghangatkan pori-pori kulit, bersanding bersama nyaman yang nyata. Melukiskanmu membutuhkan begitu banyak kanvas dan cat. Melukiskan pikiran, melukiskan rasa yang ada untukmu, selalu untukmu. Dan aku tetap tak akan pernah mampu menolak kehadiranmu, kembali dalam hari-harimu. Aku sudah berjanji menjadi rumah yang setia menunggumu pulang, tempat yang aku kau kunjungi kembali meski kini kau tlah hilang. Hanya sementara, hanya sementara.
Pasir-pasir putih yang pernah kita pijaki bersama, memandang senja yang manis dan bersahaja. Berfoto riang sembari berceloteh apapun, tentang kita, tentang alam, tentang hidup. Dan pulau kecil dimana tempat kita pertama kali bersua, menjadi pelabuhan pertemuan terindah yang aku dapati. Dalam naungan langit nan biru, ombak yang menggulung indah, bau air yang asin dan teriakan-teriakan riang anak kecil saksi bisu pertama kali tanpa sadar kudapati cinta.
Suatu hari, suatu hari nanti kau sebut-sebut itu. Aku pun mempercayainya, dalam hati dan menyimpannya letak didalam memori otakku. Dan jarak ini, tak ada menghalangi rasa. Dan waktu yang akan membuat segalanya berubah menjadi lebih baik. Dimana kau berkutat dengan kehidupanmu sendiri dan akupun demikian. Waktu dimana kita mencoba memperbaiki diri, mencari hal baru yang lain. dan suatu hari nanti getir dan rindu ini akan terbalas dengan manis. Terbalas dengan kisah lain. suatu hari, suatu hari nanti. Aku akan tetap mempercayainya. Selalu, selamanya.

@echisianturi
Bandarlampung, 4 Januari 2015
19:53 WIB

No comments: