Tuesday, 31 March 2015

# Artikel

Kembalikan Kebebasan Pers!




Ada-ada saja tingkah penguasa baru negeri ini, entah tanpa sebab yang jelas memberendel, memblokir media massa islam di Indonesia. Mengapa harus Islam? Rasa-rasanya tercium aroma skenario rasis dibalik pemerintahan. Mungkin ini yang dimaksud dengan ‘Revolusi Mental’ yang dahulu sering sekali digaungkan. Yah, revolusi mental yang mencapai titik terendah, sebuah pembatasan pers!

Republik ini bahkan mungkin tak lebih baik dari Republik Jancukers. Banyak hal yang membuat rakyat bertanya-tanya, apa sebenarnya kemauan dari pemerintah yang baru seumur jagung ini? Isu kenaikan BBM belum rendah, kini menyeruak kepermukaan pemblokiran media massa islam. Padahal situs media massa tersebut bersikap netral, tak memihak ISIS maupun pihak manapun. Apakah karena ingin membatasi ruang gerak dakwah Islam?

Sejarah seakan terulang kembali, dimana kebebasan pers mulai nampak dibatasi. Anda jangan coba-coba untuk mengkritik pemerintah, apalagi bapak President kita! Bisa-bisa anda dicari hingga kepelosok dan dijebloskan ke dalam penjara layaknya seorang tersangka yang melakukan kejahatan besar. Orde kelinci, begitu sebutan baru untuk pemerintahan saat ini. Dimana kebijakan publik dipertanyakan, tak berpihak kepada masyarakat hanya menitikberatkan kepada suatu golongan saja.

Negara dagelan dan para wayang mulai melancarkan aksinya. Berhati-hati saja jangan sampai terbuai dengan lakonnya. Kita sebagai rakyat punya andil yang sangat besar untuk menyelamatkan bangsa ini. Kembalikan kebebasan pers! pers yang netral yang berusaha memberitahukan kebenaran. Pers yang membongkar kebusukan dibalik pemerintahan boneka. Pers yang menjadi watch dog terhadap kebijakan pemerintah yang tak memihak kepada rakyat. 

@echisianturi
Penulis lepas

No comments: