Saturday, 16 May 2015

# Cerpen

Rahasia, Tetap Menjadi Rahasia~

Aku mencintainya. Dia yang hanya dapat aku amati dari kejauhan. Yang hanya dapat aku nikmati punggungnya. Dia yang selama ini selalu mengisi relung hatiku. Tidakkah dikala seseorang dilanda kegalauan, cintalah yang mampu mencerahkan kita?
Suatu ketika aku bersua sejenak dengan teman setiaku. Aku menyempatkan bercengkrama dengannya barang sejenak, tentang rahasia kehidupan yang menjadi tanda tanya besar dalam setiap hari-hariku.
“Siapa yang tertarik dengan wanita bermata minus? Yang tidak memiliki keahlian selain berkutat dengan kata-kata dan bergulat dengan dunianya sendiri?”, tanyaku gundah. Mataku tetap tak beranjak sedikitpun menatap langit dan awan lekat-lekat.
“Percayalah, manusia memiliki keunikannya masing-masing kawan.” Jawabannya tak lantas membuatku puas, dan akupun kembali bertanya lagi.
“Terlalu banyak teka-teki.”
“Bukan dunia namanya jika semua tak rahasia.”
“Apakah termasuk jodoh?”
“Semua sudah jelas tertulis di Lauhul Mahfuzh kawan jangan khawatir. Tinta takdir sudah dituliskan dan kering.” Jawaban terakhir yang sangat bijaksana. Namun, tetap saja tak mampu menjawab pertanyaanku tentang rahasia.
“Mengapa kau bertanya soal jodoh? Apa kau ingin segera melepas masa lajangmu?”, tanya temanku sedkit bingung. Matanya menatapku dalam seolah mencari kepastian dari pertanyaannya. Aku tetap bungkam tak bergeming. Sudut-sudut bibirku bak mati rasa, aku tak mampu berkata. Ini soal rasa, dan aku tak sanggup mendeskripsikannya secara gamblang seperti aku sedang menuliskan seluruh rasa. Aku tak akrab dengan lidah, aku tak akrab dengan mulut, aku tak akrab dengan mereka. Aku lebih memilih diam, bersama dengan kata, pena dan kertas usangku.
Rasaku terlalu dalam untuk dilontarkan, terlalu tabu untuk didengar mereka. Ini soal rasa, dan rasa soal hati, dan hati tentu saja menjadi rahasia hati.
“Aku khawatir jika aku kelak tak dapat bersamanya, walaupun hanya sekedar bersama dalam mimpi malamku”.
“Itukah yang menyebabkan kau khawatir? Hingga berlama-lama menatap langit, menatap awan? Mencoba menenangkan diri diantara sekumpulan awan yang berarakan bebas di langit luas kawan?”, dia kembali  menjejaliku dengan berjuta pertanyaan.
“Awan memiliki Filofosi karena bentuknya yang selalu berubah harus rela luruh menjadi rintik hujan. Bentuknya selalu berubah mengikuti hukum alam, jatuh kesungai, mengalir kelaut lalu menguap ke langit dan kembali menjadi awan lagi. Bukankah titik hujan tak pernah bertanya, kenapa mereka harus meninggalkan tata langit? Saat harus jatuh membasuh bukit”.1
“Awan selalu mengagumkan, dia memiliki filosofi yang sedemikian indahnya tentang penghambaan”, temanku mendesah pelan. Angin sore membelai pelan rambut panjang nan indah milikknya. Mata coklatnya terpejam beberapa saat.
“Menerima takdir apakah termasuk salah satu bentuk penghambaan?”, masih banyak pertanyaan yang mengelayuti kalbuku.
“Mungkin”.
“Mungkin? Tidak bisakah kau memberikan jawaban yang kongkrit atas pertanyaanku?”
“Aku bilang mungkin. Semua tergantung dengan presepsimu tentang hidup. Apa itu penghambaan. Apa itu takdir, jodoh, maut.”
“Aku mencintainya, sama seperti aku mencintai langit dan seisinya”, aku mendekap erat fotonya. Foto yang diam-diam aku curi dari profil facebooknya, foto yang diam-diam selalu aku amati setiap malam hari sebelum aku terlelap memejamkan mata.
“Jika kau mencintainya, maka biarkanlah dia bebas. Bukankah kau mencintai awan?”
“Aku tak sanggup melakukannya”, ucapku kalut, mataku mulai berair. Tak tertahankan lagi perih didada.
“Mengapa?”. Temanku tetap saja mencercaiku dengan segerombolan pertanyaan.
“Karena aku tak ingin dia bersama dengan orang lain”
“Jika demikian kau tak sungguh-sungguh mencintainya kawan”.

***

Echi Sianturi
Di Tanah Tuhan

1 : Dikutip dari “Rectoverso” – Dewi “Dee” Lestari

No comments: