Thursday, 14 May 2020

Sepotong Kenangan Tercecer di Edinburgh

May 14, 2020 0 Comments

Angin sejuk musim gugur berhembus di taman kota Princess, Edinburgh.  Nampak seorang lelaki muda duduk termenung seorang diri di sudut taman. Lelaki berusia sekitar 22 tahun itu begitu khusyuk menulis di buku kecilnya, sesekali merapatkan mantel coklat berbulu yang dia kenakan. Angin musim gugur Edinburgh begitu menusuk hingga ke sendi-sendi tulangnya.

Deretan pohon  mapel yang memisahkan rel kereta api di stasiun Weaverly dengan taman itu, begitu memesona pandangan. Sejauh mata memandang warna daunnya membentuk paduan warna nan elok; kuning, jingga, merah tua hingga coklat. Siap berguguran satu per satu menyambut kedatangan musim dingin yang tinggal menghitung hari lagi.

Lelaki bernama Diki itu beranjak dari kursi taman yang telah dia duduki kurang lebih dua jam. Berjalan pelan menyusuri jalanan kota Edinburgh yang mulai lenggang menuju Universitas Edinburgh tempat ia menimba ilmu empat tahun terakhir. Bangunan kampus yang kental dengan gaya Georgian abad ke-18, membuatnya begitu enggan meninggalkan kampus yang melahirkan penulis terkenal kesukaannya, Sir Arthur Conan Doyle.

Mata elang miliknya menerawang jauh ke kastil Edinburgh yang berdiri kokoh di atas bukit. Menegaskan kejayaan Skotlandia si negeri dongeng pada masa lampau. Angin musim gugur berhembus semakin kencang, Diki semakin merapatkan mantelnya, “Dingin yang menusuk ini mengingatkan pada sebuah desa di kaki gunung yang kini kurindukan”, ujarnya tertahan sembari terus berjalan menuju kampus yang hanya tinggal beberapa meter lagi.

***

Langit sedang tak berbahagia, mendung menyelimuti pekon (desa) Bahway pagi itu. Anak-anak tetap berlarian ceria meski tahu akan turun hujan, puncak gunung Pesagi tertutup awan. Puncak yang selalu berhasil mengajak para pendaki untuk datang dan merasakan sensasi mendaki di puncak paling tinggi di Lampung itu.

“Diki, ayo kita main”, ajak lelaki berusia tujuh tahun itu. Rambutnya gimbal dan deretan giginya yang ompong terlihat jelas ketika ia tersenyum.

“Iya”, jawab Diki singkat. Lelaki berambut gimbal itu tertawa kegirangan, langkah kakinya segera meluncur, berlarian melintasi jalan desa yang masih belum tersentuh aspal. Embun pagi menetes dari sela-sela pepohonan yang hijau, ibu-ibu membawa bakul sayuran menuju pasar tradisional terdekat.

Diki kewalahan mengejar si gimbal yang sudah berlari dengan kencangnya. Nafasnya memburu, ia berhenti sejenak. Tangannya merogoh satu kantung kelereng yang sudah ia persiapkan dari rumah, ia sudah tahu jika si gimbal pasti akan mengajaknya adu kelereng. Berapa kali bermain adu kelereng pun, Diki akan tetap menang. Di pekon Bahway, ia adalah master kelereng yang tak terkalahkan.

“Diki, kamu mau bertanding kelereng lagi yah”, terdengar suara perempuan dari kejauhan. Ia menengok, mencari arah datangnya suara yang samar-samar itu. Anak perempuan berambut panjang sepinggang nan hitam, kedua bola mata yang bulat hitam serta kulitnya yang putih pucat, Nadia.

Diki menghentikan langkahnya, “Gimbal mengajakku adu kelereng lagi”, jawabnya singkat. Kedua anak kecil itu pun kembali berlarian, menuju tempat si gimbal. Gimbal melambaikan tangannya dari kejauhan, di sebuah tanah lapang tempat anak-anak setempat menghabiskan waktu senggang. Bermain bola kaki, engrang, petak umpet atau hanya sekedar adu kelereng seperti Diki dan Gimbal lakukan pagi itu. Lapangan itu penuh sesak oleh kumpulan anak-anak yang ingin menyaksikan adu kelereng antara mereka berdua.

“Ayo Diki kalahkan si gimbal”, teriak anak laki-laki bertubuh gempal di barisan paling depan.

“Ayo Gimbal kalahkan Diki, jangan mau kalah lagi”, teriak anak laki-laki lain tak mau kalah.

“Diki! Diki! Diki! Semangat master kelereng kami!”, teriakan dari kubu Diki.

“Gimbal! Gimbal! Gimbal! Gimbal! Jangan mau dikalahkan lagi dengan Diki!”, kubu si Gimbal pun tak mau kalah, meneriaki Gimbal dengan begitu berapi-api.

Diki dan Gimbal hanya terdiam, menatap heran kepada tingkah laku teman-teman mereka yang semakin memanas. Pertandingan adu kelereng kali ini memang pertandingan yang sangat ditunggu-tunggu, adu kelereng terakhir sebelum lebaran esok hari.

“Ayo Diki kalahkan Gimbal lagi!”, ujar anak lelaki bertubuh gempal, ketua dari kubu Diki.

“Gimbal ayo kalahkan Diki untuk kami”, sambung anak lelaki lain dari kubu seberang.

Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, adu kelereng yang di awalnya adem-ayem saja berubah menjadi arena perkelahian. Nadia si gadis bermata besar berteriak ketakutan, berlari menjauhi gerombolan anak laki-laki yang sudah tak mampu di kontrol.

“Siapa yang mau bertanding, siapa yang akhirnya malah berkelahi”, desah Nadia pelan. Nadia pun berlari menghindar, segera mencari pertolongan masyarakat sekitar untuk melerai perkelahian teman-teman sebayanya yang bukan hanya satu atau dua kali terjadi.

***

“Tabik pun1”, ujar kepala desa pekon Bahway membuka sambutan dalam rangka lebaran tahun ini. Pagi ceria, lantunan takbir berkumandang di segala penjuru pekon. Anak-anak dengan sumringah memakai baju baru yang ibu mereka belikan. Masyarakat pun sibuk menyiapkan festival sekura, sebuah festival topeng khas Lampung Barat yang paling ditunggu-tunggu.

Para turis asing mulai berdatangan, mengabadikan setiap moment di pekon Bahway yang tak akan mereka jumpai di Negara mereka. Mulei dan mekhanai pekon Bahway saling mencuri pandang satu sama lainnya, kemudian tertawa kecil sembari memberikan kode-kode jika mereka sama-sama tertarik.

Gerombolan anak-anak yang terlibat perkelahian kemarin saling berjabat tangan, gurat bahagia begitu terpancar dari wajah mereka yang masih polos. Berkelahi, kemudian berteman lagi, begitu setiap harinya. “Kham unyin muakhi2!”, ujar lelaki bertumbuh gempal bersemangat.

***

“Sir, please one creamy latte”, pesan Diki kepada pelayan cafe yang mengenakan  Kilt3. Alunan musik tradisional Skotlandia semakin memanjakan pendengaran Diki. Musisi muda bermata hazel itu mahir memainkan Big Pipe4 dengan penuh penghayatan. Sekilas, tak ada yang istimewa dari The Elephant House. Seperti kafe-kafe biasa di Edinburgh, layaknya The Doctors, sebuah kafe kecil di sudut jalan, dekat universitas Edinburgh yang kerap kali ia datangi. The Elephant House menjadi saksi bisu tempat kelahiran si Harry Potter, bocah penyihir berkacamata yang mendunia itu.

Benaknya menerawang jauh, percakapan singkat via telepon dengan salah satu rekannya di Liwa.  Membawanya sejenak pergi berangsur dari negeri dongeng Skotlandia menuju tanah di selatan pulau Sumatera. “Winston Churchill pernah berkata, “Dari semua negara kecil di bumi, mungkin hanya Yunani Kuno yang melampaui Skotlandia dalam hal kontribusi terhadap umat manusia”. Sungguh luar biasa bukan aku dapat menimba ilmu disini”, ungkap Diki antusias.

“Hingga kamu tak ingin kembali lagi ke tanah Ruwa Jurai, ki?”, pertanyaan menohok ia terima. Sebuah pertanyaan yang cukup menyudutkan meski ia akui tak ada intonasi menyindir dari teman masa kecilnya itu.

“Jangan menghakimiku Gimbal”, sanggah Diki cepat.

“Pulanglah. Karena kampung halamanmu adalah sebaik-baiknya tempat untuk pulang. Apa kamu tidak ingin melihat festival sekura tahun ini? Sudah berapa festival kamu lewati begitu saja”, ujar Gimbal. Suaranya serak, mencoba menahan kekecewaan yang menggelayuti hatinya. Telepon pun terputus, jaringan antar benua memang tidak begitu bagus. Malam telah terlalu larut, udara malam Edinburgh berhasil membuat Diki menyerah dan mengambil selimut tebalnya.

Pelayan memberikan creamy latte yang Diki pesan sekaligus membangunkannya dari lamunan akan kampung halamannya. Ia bergegas keluar dari  kafe dengan warna cat oranye yang dipenuhi antrean pembeli. Berlari menuju halte bus Edinburgh, platform A yang tak jauh dari kafé. Ia dengan sigap mengeluarkan £1.5 dari dompet kulit hitamnya seraya menyerahkan kepada supir bus, “Sir, Edinburgh Airport”, ujarnya mantap. Bus Lothian5 membawanya pergi menuju bandara tempat di mana ia akan pulang untuk menuntaskan rindu akan tanah kelahiran yang telah lama tertahan jauh di benua Eropa sejak dua tahun yang lalu.

***

Keterangan:
Tabik pun1 : Sambutan khas masyarakat Lampung
Kham unyin muakhi2 : Kita semua bersaudara
Kilt3                             : Baju tradisional Skotlandia berbentuk rok dengan motif kotak- kotak
warna merah atau  biru dan hitam
Big Pipe4 : Alat musik tradisional Skotlandia
Bus Lothian5 : Bus bertingkat dalam kota di Edinburgh


Cerpen ini menjadi juara dua dalam lomba cerita pendek “Cerita dari Kampung” yang di selenggarakan oleh Aura Publishing dan sudah diterbitkan dalam bentuk Antologi Cerpen “Cerita dari Kampung” bersama tiga puluh kontributor.


Friday, 24 January 2020

Secangkir Kopi, Hujan, dan Kamu (A Romantic Poem by Echi Sianturi)

January 24, 2020 0 Comments



Secangkir kopi dan hujan malam ini terasa hambar tanpa kehadiranmu. Semua menyadarkanku bahwa aku tak lengkap tanpa hadirmu. Aku seorang tanpa daya, tak mampu berucap kata, hanya mampu memendam rasa.

Secangkir kopi dan hujan malam ini terasa berbeda dari malam sebelumnya. Tak ada kamu. Hanya ada buku, catatan kisah kita yang telah terlanjur berkarat bertahun lamanya. Kenangan dalam kenangan yang mungkin sudah kau tinggalkan disalah satu sudut otakmu. Kenangan dalam kenangan yang telah berdebu. Dahulu, kala itu.

@echisianturi
Bandarlampung, 17 Januari 2014

23:09 Antara rinai hujan ~~

Monday, 1 October 2018

15 Anime Komedi Terlucu Versi Echi-chan

October 01, 2018 0 Comments
Ohayoo minna! Kali ini Echi-chan mau memberikan rekomendasi anime terlucu yang pernah ditonton. Gintama tentu masih dan akan tetap menjadi rajanya anime Komedi. Ada  15 list anime terlucu versi Echi-chan. Meskipun tentu masih banyak anime genre komedi lain juga yang lucu yang mungkin terlewatkan di list. Naah, selamat tertawa menonton animenya yah!

1. Gintama
  • Jumlah Episode : 1 - 365 (till now)
  • Musim Rilis : Spring 2006
  • Studio yang Memproduksi : Sunrise, Dentsu
  • Durasi per Episode : 24 Menit
  • Genre : Action, Comedy, Parody, Samurai, Shounen
  • Skor di MyAnimeList : 9.0
2. One Punch Man
  • Judul Singkat : OPM
  • Jumlah Episode : 12 + 1 OVA + 6 Special Episode
  • Musim Rilis : Fall 2015
  • Tanggal Tayang : 5 Oktober 2015 hingga 21 Desember 2015
  • Studio yang Memproduksi : Madhouse
  • Durasi per Episode : 24 Menit
  • Genre : Action, Comedy, Parody, Sci-Fi, Seinen, Super Power, Supernatural
  • Skor di MyAnimeList : 8,84
3.  Saiki Kusuo no Psi Nan
  • Judul Alternatif : The Disastrous Life of Saiki K., Saiki Kusuo no Psi Nan
  • Jumlah Episode : 120 (Dirangkap jadi 24 episode)
  • Musim Rilis : Summer 2016
  • Tanggal Tayang : Jul 4, 2016 to Dec 26, 2016
  • Studio yang Memproduksi : J.C.Staff, Egg Firm
  • Durasi per Episode : 24 Menit
  • Genre : Slice of Life, Comedy, Supernatural, School, Shounen
  • Skor di MyAnimeList : 8.56
4. Nichijou
  • Judul Alternatif : My Ordinary Life (Keseharianku)
  • Jumlah Episode : 26 + 1 OVA
  • Musim Rilis : Spring 2011
  • Tanggal Tayang : 3 April 2011 hingga 25 September 2011
  • Studio yang Memproduksi : Kyoto Animation
  • Durasi per Episode : 23 Menit
  • Genre : Slice of Life, Comedy
  • Skor di MyAnimeList : 8,51
5. Barakamon
 
  • Jumlah Episode : 12
  • Musim Rilis : Summer 2014
  • Tanggal Tayang : Jul 6, 2014 to Sep 28, 2014
  • Studio yang Memproduksi : Kinema Citrus
  • Durasi per Episode : 22 min. per ep.
  • Genre : Comedy, Slice of Life
  • Skor di MyAnimeList : 8.47
6.  Nodame Cantabile
  • Judul Alternatif : Nodame Cantabile Season 1
  • Jumlah Episode : 23
  • Musim Rilis : Winter 2007
  • Tanggal Tayang : Jan 12, 2007 to Jun 15, 2007
  • Studio yang Memproduksi : J.C.Staff
  • Durasi per Episode : 22 min. per ep.
  • Genre : Music, Slice of Life, Comedy, Drama, Romance, Josei
  • Skor di MyAnimeList : 8.40
 7. Grand Blue
  • Jumlah Episode : 12
  • Musim Rilis : Summer 2018
  • Tanggal Tayang : Jul 14, 2018
  • Studio yang Memproduksi : Zero-G
  • Durasi per Episode : 24 min. per ep.
  • Genre : Comedy, Seinen, Slice of Life
  • Skor di MyAnimeList :8.38  
8. Hinamatsuri
  • Judul Alternatif : Hina Festival, ヒナまつり
  • Jumlah Episode : 12
  • Musim Rilis : Spring 2018
  • Tanggal Tayang : Apr 6, 2018 to Jun 22, 2018
  • Studio yang Memproduksi : feel.
  • Durasi per Episode : 23 min. per ep.
  • Genre : Comedy, Sci-Fi, Seinen, Slice of Life, Supernatural
  • Skor di MyAnimeList : 8.37
9.  Sakurasou no Pet na Kanojo
  • Judul Alternatif : The Pet Girl of Sakurasou
  • Jumlah Episode : 24
  • Musim Rilis : Fall 2012
  • Tanggal Tayang : Oct 9, 2012 to Mar 26, 2013
  • Studio yang Memproduksi : J.C.Staff
  • Durasi per Episode : 23 min. per ep.
  • Genre : Comedy, Drama, Romance, School, Slice of Life
  • Skor di MyAnimeList : 8.33
10. SKET Dance
  • Jumlah Episode : 77 + 1 OVA
  • Musim Rilis : Spring 2011
  • Tanggal Tayang : 7 April 2011 hingga 27 September 2012
  • Studio yang Memproduksi : Tatsunoko Production
  • Durasi per Episode : 24 Menit
  • Genre : Comedy, School, Shounen
  • Skor di MyAnimeList : 8,35
11.  Danshi Koukousei no Nichijou
  • Judul Alternatif : Daily Lives of High School Boys
  • Jumlah Episode : 12
  • Musim Rilis : Winter 2012
  • Tanggal Tayang : Jan 10, 2012 to Mar 27, 2012
  • Studio yang Memproduksi : Sunrise
  • Durasi per Episode : 24 min. per ep.
  • Genre : Slice of Life, Comedy, School
  • Skor di MyAnimeList : 8.34
12. Asobi Asobase
  • Jumlah Episode : 12
  • Musim Rilis : Summer 2018
  • Tanggal Tayang : Jul 8, 2018 to Sep 23, 2018
  • Studio yang Memproduksi : Lerche
  • Durasi per Episode : 23 min. per ep.
  • Genre : Comedy, School
  • Skor di MyAnimeList : 8.21
13.  Kaichou wa Maid-sama
 
  • Judul Alternatif : Class President is a Maid!
  • Jumlah Episode : 26 + 1 OVA
  • Musim Rilis : Spring 2010
  • Tanggal Tayang : 2 April 2010 hingga 24 September 2010
  • Studio yang Memproduksi : J.C.Staff
  • Durasi per Episode : 24 Menit
  • Genre : Comedy, Romance, School, Shoujo
  • Skor di MyAnimeList : 8,26
14.  Gekkan Shoujo Nozaki-kun
  • Judul Alternatif : Monthly Girls’ Nozaki-kun
  • Jumlah Episode : 12
  • Musim Rilis : Summer 2014
  • Tanggal Tayang : 7 Juli 2014 hingga 22 September 2014
  • Studio yang Memproduksi : Doga Kobo
  • Durasi per Episode : 24 Menit
  • Genre : Romance, Comedy, School
  • Skor di MyAnimeList : 8,26
15. Bokura wa Minna Kawai-sou

  • Judul Alternatif : The Kawai Complex Guide to Manors and Hostel Behavior
  • Jumlah Episode : 12
  • Musim Rilis : Spring 2014
  • Tanggal Tayang : Apr 4, 2014 to Jun 20, 2014
  • Studio yang Memproduksi : Brain's Base
  • Durasi per Episode : 24 min. per ep.
  • Genre : Slice of Life, Comedy, Romance, School, Seinen
  • Skor di MyAnimeList : 7.83

Friday, 28 September 2018

Meski dianggap Keren, 5 Bahaya Ini Diam-diam Mengintai Kamu si Melek Teknologi

September 28, 2018 0 Comments

Kemajuan teknologi yang semakin pesat, tidak dipungkiri memudahkan kita dalam melakukan banyak hal. Teknologi berhasil menyelamatkan dunia di berbagai aspek kehidupan. Teknologi dalam kesehatan yang maju membuat banyak orang terselamatkan dari berbagai ancaman virus yang mengintai. Kini, membuat vaksin virus tak hanya sekedar mimpi belaka. Disisi lain teknologi dalam bidang komunikasi memudahkan kita untuk terhubung kebelahan dunia mana pun, tanpa membutuhkan waktu yang lama.


Kamu yang lahir tahun 1990-an pasti paham sekali, jika teknologi merupakan keajaiban yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dulu untuk mengetahui kabar kerabat saja, kamu harus repot-repot menulis surat dan mengirimkan via kantor post. Kamu harus menunggu balasan surat selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Sebagai generasi millennials yang merasakan transformasi teknologi, kamu pasti sadar benar teknologi memang anugerah yang diberikan pada manusia untuk mempercepat laju pembangunan.

Tetapi, dibalik kemilaunya teknologi abad 21 ini ada sisi kelam yang membahayakan kamu si melek teknologi. Karena tidak selamanya teknologi membawa pengaruh positif. Ketika kamu terlena dengan teknologi, secara tidak sadar teknologi mengendalikanmu. Padahal, teknologi seharusnya dipergunakan sesuai porsinya, karena apapun yang berlebihan akan berdampak tidak baik. Yuk, kenali bahaya teknologi sebelum kamu terlalu terlena!


1. Teknologi yang berkembang pesat membuat kamu terlena dengan segala kemudahan yang ada, hingga mau belanja pun kamu malas dan lebih cenderung untuk membeli kebutuhan melalui toko online.

Banyaknya toko online yang berkembang pesat, membuat kamu lebih cenderung untuk belanja online. Alasan sibuk serta praktis membuat toko online seketika menjadi primadona baru di masyarakat. Kamu dapat membeli segala macam keperluan mulai dari baju, tas, sepatu jam tangan, hingga barang-barang eletronik. Kebiasaan membeli barang online ini membuat kamu lupa rasanya berkeliling pasar, toko, atau pun mall. Teknologi begitu memanjakan kamu, hingga tanpa sadar semakin hari kamu semakin malas bergerak. Jika terus dibiarkan lambat laun kamu akan menjadi lupa rasanya berpeluh keringat berburu barang yang diinginkan.

Tidak ada salahnya membeli barang secara online, namun jika dibiarkan terus-menerus akan membuatmu semakin konsumtif. Alih-alih ingin serba praktis dan cepat, justru malah akan menguras kantongmu. Apalagi dengan banyaknya diskon yang ditawarkan, membuatmu tak dapat mengontrol diri. Kemudian, membeli barang yang seharusnya tidak begitu kamu butuhkan. Bukankah itu namanya pemborosan yang sia-sia? 


2. Media Sosial yang semakin trend belakangan ini membuat privasi-mu tak ada batasan lagi. Semua orang tahu seluk-beluk tentangmu.


Instagram, Facebook, Twitter, dan media sosial lain merupakan bukti kemajuan teknologi. Trend pertemanan pun mulai berubah seiring dengan perkembangan zaman. Dulu, ketika ingin berkenalan dengan seseorang kamu harus bertemu dan bertatap muka secara langsung. Namun, kini kamu tidak perlu bertemu langsung untuk sekedar berkenalan dengan teman baru. Hanya dengan gadget ditanganmu serta berbagai aplikasi media sosial. Dunia pertemanan serasa ada di telapak tanganmu.

Media sosial menawarkan pertemanan praktis  dan tanpa sekat lagi. Tanpa sadar kamu mulai suka mengumbar segala hal terkait kehidupan pribadimu. Entah sedang sedih, marah, bahagia, kecewa semua perasaan acapkali kamu tuangkan melalui postingan-postingan di media sosial.   Privasimu kini nampak abu-abu, kamu tidak lagi peduli mana hal yang harus kamu bagikan mana yang tidak. Privasi seakan menjadi hal langka ketika kamu bermedia sosial. Hidupmu selalu dibayang-bayangin segala hal tentang dunia maya. Alih-alih ingin mendapatkan eksistensi, justru akan berdampak pada psikologismu sendiri.

Selain membahayakan psikologis, terlalu gemar membagikan apapun tentang hidupmu akan memancing orang yang tidak bertanggungjawab diluar sana. Bijaklah untuk tidak memposting hal-hal yang sensitif, berupa tiket perjalananmu, identitas dan lokasi rumah. Terlalu aktif di media sosial membuat imagemu tak menarik lagi. Karena tanpa berkenalan pun orang-orang akan tahu, hanya dengan melihat postingan-postingan media sosialmu.

3. Mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Kamu terlalu fokus dengan gadget dan dunia maya sehingga menjadi tidak aware dengan lingkungan sekitar.



Kapan terakhir kali kamu berkunjung kerumah teman lamamu? Sebulan atau bahkan setahun yang lalu? Anggapan menjalin hubungan via dunia maya akan langgeng harusnya segera kamu tepis. Hubungan yang didasari dengan pertemuan-pertemuan, serta obrolan yang hangat nyatanya akan lebih terasa langgeng. Ingatkah kamu masa-masa indah berkumpul bersama keluarga dan teman-teman tanpa adanya gangguan gadget? Semua nampak fokus dan saling mendegarkan cerita masing-masing. Tertawa bersama tanpa sibuk mengupdate instastory-mu. Saling menghargai satu sama lain menjadi hal utama yang kamu junjung tinggi ketika berkumpul.


Kini pemandangan miris dapat kamu temukan ketika berkumpul. Reuni yang dilaksanakan setahun sekali menjadi tidak hangat lagi, karena masing-masing sibuk berkutat dengan gadget. Entah sibuk mengupdate media sosial atau chatting dengan seseorang diluar sana. Kamu pun menjadi tidak aware dengan lingkunganmu, orang-orang yang harus kamu hargai ketika mereka sedang berbicara. Kamu yang semestinya punya quality time dengan mereka justru sibuk dengan duniamu sendiri. Bukankah berkumpul bersama adalah moment yang berharga? Jangan sampai nanti dikemudian hari kamu menyesali tindakanmu sendiri yang tidak aware dengan lingkungan sekitar.

4. Bahasa tulisan memiliki banyak tafsir, sehingga sering kali terdapat kesalahpahaman. Bukankah bertemu akan semakin mempererat suatu hubungan?

Kini kamu memang sudah tidak perlu bersusah payah mengirim surat hanya demi menanyakan kabar kerabat dekat. Hanya dalam hitungan detik saja pesanmu bisa sampai keberbagai bagian dunia. Bermodal gadget dan kuota, menulis pesan untuk kerabat jadi sangat mudah. Apalagi dengan hadirnya berbagai fitur pengirim pesan seperti WhatsApp, Line, BBM, E-mail dan lainnya. Namun, benarkah pesan berupa tulisanmu benar-benar sampai padanya?

Tidak seperti ketika bertatap muka langsung, berbicara dan saling melihat mata. Tulisan seyogyanya memiliki banyak tafsir yang mungkin saja dikemudian hari akan menjadi bumerang bagi diri kamu sendiri. Percakapan demi percakapan via teks memang terdengar praktis, tetapi komunikasi antar personal yang sesungguhnya tidak dapat digantikan dengan teks. Memahami satu sama lain tak dapat kamu lakukan hanya dengan membaca pesan singkatnya. Lain halnya ketika kamu bertemu dan bertatap muka langsung. Kamu dapat dengan cepat memahami perasaan seseorang melalui ekspresi wajah serta sorot matanya. Sudahkah kamu menanyakan kabar keluarga dan kerabatmu secara langsung?

5. Teknologi memberikan banyak ‘lahan’ untuk membully antar sesama. Cyber Bullying kini menjadi hal yang wajar seiring dengan kemajuan teknologi.



Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan kata ‘netizen’. Netizen seolah menjadi hakim di sosial media yang tahu segalanya. Tidak adanya filter di media sosial membuat para netizen ‘maha Tahu’ tersebut menjadi-jadi. Banyak orang menjadi sasaran empuk cyber bullying khusunya para pesohor yang memiliki followers yang banyak di akun sosial media mereka. Kamu lambat laut pun mungkin akan ikut terseret dalam kubangan cyber bullying. Ketika memulai aktivitas cyber bullying, saat itu juga kamu sudah menjatuhkan mental orang lain dan juga dirimu sendiri.

Membully adalah aktivitas yang sangat tercela, apalagi jika menyangkut kelemahan orang lain seperti fisik dan juga tingkat kecerdasan seseorang. Para korban cyber bullying akan merasa hidupnya tidak berarti karena merasa tidak dianggap dan dihargai. Jika terlalu lama serta dibiarkan terus menerus akan berdampak pada psikologisnya, mulai dari depresi atau yang paling parah bahkan mengakibatkan korban bunuh diri. Amat disayangkan teknologi kerap kali digunakan oleh orang-orang bermental bully untuk melancarkan aksi mereka. Berbekal teknologi yang canggih makin membuka banyak ‘lahan’ bagi para pelaku cyber bullying.

Apakah teknologi masih menyilaukan matamu? Ingatlah bahaya yang diam-diam mengintaimu setiap saat. Bijak saat memanfaatkan teknologi, sehingga kamu dijauhkan dari sifat kecanduan teknologi yang akan berakibat pada dirimu sendiri. Ingat, teknologi adalah ciptaan manusia, jangan sampai ciptaan manusia ini justru yang akan mengambil kendali kehidupan manusia itu sendiri. Berdamailah dengan teknologi dengan tidak membiarkannya menggerogoti kehidupan nyatamu.

@echisianturi