Tuesday, 23 June 2015

# Prosa Singkat

Selamat Malam Dunia




Selamat malam dunia…

Aku tahu jika kau akhir-akhir ini semakin bersahabat, semakin kelabu mendekati kelam. Aku memang tak memiliki hak untuk mengatakan hal ini sebenarnya. Mengapa kau begitu kejam dengan kami? Atau kah sebaliknya kami yang begitu kejam memperlakukanmu?

Kau tahu dunia, manusia semakin tak mampu memanusiakan manusia saat ini. Aku memang bukan seorang yang sangat religius, namun aku paham bahwa tak ada satu pun ajaran yang membenarkan untuk menistakan manusia. Siapa yang tahan melihat orang-orang yang tak bersalah dibantai tanpa rasa bersalah. Kau tahu dunia, orang yang percaya dengan Tuhan tak akan melakukan hal-hal yang berujung kepada pertumpahan darah. Bukankah Tuhan menyukai keharmonisan. Aah, iya benar aku tahu apa tentangmu dunia. Sekali lagi aku memang bukan orang yang sangat religius.

Aku hanya dapat mengelus dada serta menghela nafas ketika kudapati orang-orang seakan menutup mata. Ada saudara-saudara nun jauh disana menangis ketakutan, kelaparan, dinistakan, diusir dari negaranya sendiri. Mereka, orang-orang yang mengakui dirinya manusia. Iya benar, mereka mengakui dirinya sebagai manusia. Namun lihatnya apa yang telah mereka lakukan sama sekali tak mencerminkan tingkah laku sebagai seorang manusia. Dimana hati nuraninya? 

Aku bertanya-tanya apakah sebegitu kuat rasa dendam atau apapun alasan yang melandasi mereka untuk membantai orang-orang yang tak bersalah. Apakah mereka bersalah karena memeluk agama yang mereka yakini? Jika membantai menjadi jalan keluar yang terbaik, maka betapa banyak manusia di dunia ini yang harus membunuh satu sama lainnya hanya karena sebuah perbedaan.

Dunia, maafkan kami yang telah membuat onar dengan menciptakan kericuhan yang menggangu ketenanganmu. Sejujurnya aku pun tak nyaman dengan keadaan ini. Apalah arti sebuah keadilan saat ini? Semua dijadikan kabur, tak jelas mana batasan keadilan yang hakiki. Banyak nyawa melayang namun mereka tetap bungkam. Sikap apatis, tak mau tahu, tak mau ambil pusing. Rasa kemanusiaan lenyap sudah, dunia kau pasti sudah tahu bahwa hal ini memang akan terjadi bukan?

Tubuh-tubuh kering kerontang, mata yang berkaca-kaca, mulut yang tak henti berkomat-kamit membaca doa memohon sebuah perlindungan dan keadilan. Aku tak tahan, mereka yang menyebut dirinya sebagai sesama muslim diam membisu, mematung diri. Sungguh, apakah persaudaraan itu hanya sebatas di mulut belaka?

@echisianturi
Bandarlampung, 24 Mey 2015
#SaveRohingya #SaveMuslims #Justice #Peace

No comments: