Friday, 7 August 2015

# Artikel

Mengapa Harus Mempersulit sebuah Pernikahan?

Pernikahan.
Siapa yang tidak ingin menikah, bersatu, hidup bersama orang yang kita cintai. Membangun sebuah rumah tangga harmonis, dikaruniani anak-anak yang sholeh dan sholehah. Pernikahan adalah mimpi bagian sebagian besar orang, ketika menginjak usia duapuluh tahunan kita pun mulai bertanya-tanya siapa jodoh kita nanti? Kapan akan menikah? Bagaimana acara pernikahan nanti?

Pernikahan sebuah langka besar yang harus dipikirkan secara matang. Bukan hanya setahun dua tahun hidup bersama namun seumur hidup, hingga akhir hayat *tsaah :D Sayangnya, seringkali ibadah ini sering dipersulit dengan syarat ini itu dari calon mertua maupun dari calon mempelai wanita itu sendiri dengan alasan yang beragam.

Beberapa waktu lalu, ketika saya dan teman-teman saya berkumpul kami sempat menyinggung masalah pernikahan ini. Salah satu teman lelaki saya bertanya kepada saya, "Chi, nanti kalau ada yang mau ngelamar kamu mau minta berapa juta buat nikahnya?". Mendengar pertanyaan dari teman saya tersebut, saya bingung menjawabnya. Heran dengan label harga yang baru saja dia lontarkan. "Waah, kalau echi mah mahal kayaknya fan", sambung teman lelaki saya yang lain sembari tertawa.

Naah, hal ini yang seringkali membuat calon mempelai laki-laki dibuat kesulitan. Masalah budget pernikahan, biaya ini itu bla bla yang banyak sekali. Apalagi jika pihak calon mempelai wanita meminta dengan terang-terangan berapa nomimal yang harus dipersiapkan untuk melangsungkan pernikahan. Bahkan, mungkin saja ada yang mundur secara perlahan karena merasa tak sanggup dengan nominal biaya pernikahan yang 'waah' tersebut.

Yaah, saya merasa kasihan dengan calon suami saya nanti siapapun itu. Jika saya harus membebankannya dengan angka nominal hanya untuk sebuah pesta pernikahan, untuk alasan gengsi atau sebagaimana. Demi meningkatkan gengsi di mata manusia, acapkali berhutang pun menjadi pilihan yang sering diambil. Dengan percaya diri nantinya setelah menikah akan segera dilunasi dengan menggunakan uang hasil 'amplop' dari para undangan. Begitulah kebiasaan masyarakat yang sering saya jumpai.

Cukup dengan yang sederhana, karena yang mewah belum tentu barakah. Disini esensi sebuah pernikahan pun seakan terkikis, alih-alih menikah ingin mencari RidhoNya malah berbalik arah untuk meningkatkan gengsi dihadapan para kolega. Terjadi perbedaan yang signifikan disini. Alangkah lebih bijaknya jika melangsungkan pernikahan yang sederhana, mengundangan adik-adik yatim piatu. Menyantuni mereka, bukan malah mengundang orgen tunggal dan biduan yang aduhai.

Terlalu banyak syarat yang dibuat oleh manusia itu sendiri, hingga mempersulit sebuah pernikahan. Padahal dalam islam tidak memberatkan bagi mereka yang ingin menyegerakan pernikahan. Rukun nikah antara lain:
  1. Pengantin lelaki (Suami)
  2. Pengantin perempuan (Isteri)
  3. Wali
  4. Dua orang saksi lelaki
  5. Ijab dan kabul (akad nikah)
Lihat, sesederhana itu sebenarnya hanya kitalah yang mempersulitnya dengan menambahkan daftar panjang syarat-syarat seperti harus sarjana, harus punya rumah, harus ini harus itu dan masih banyak lagi. Memikirkannya saja saya sudah pusing, bagaimana seandainya saya menjadi seorang lelaki. Yaah, bagi saya yang masih awam dengan masalah pernikahan, karena memang saya masih single hehee. Namun, satu hal yang saya paham betul disini, jangan memberatkan langkah seseorang yang memiliki niat tulus untuk menikahi, menjalankan satu salah ibadahNya ini. Karena ridho dariNya adalah yang paling utama diatas segalanya.

Jika saya nanti menikah tidak perlu sebuah pesta yang meriah, karena saya pribadi tidak suka dengan hal-hal yang telalu dibuat ribet. Saya bersyukur sekali dengan hal ini, tidak menampik bahwa materi adalah hal yang memang penting. Bukan berarti seorang itu harus kaya raya, cukup dengan dia memiliki rasa tanggung jawab, dan kerjakeras untuk mencari nafkah yang halal. Hal tersebut sudah lebih dari cukup, karena hasil tak akan pernah mengkhianati sebuah proses.

Selamat merengkuh cintaNya sampai kesurga. Salam untuk kamu yah, iya kamu calon imamku nanti :v *abaikan*

@echisianturi
Di tanah Tuhan dalam Rengkuhan NikmatNya.

No comments: