Thursday, 3 September 2015

# Prosa Singkat

Menitipkan Rindu



Rindu ini milik siapa?

Kepada larik-larik sajak yang begitu banyak terurai menjadi celotehan tentang rasa yang mengendap sekian lama di bilik hati. Ingin sekali menitipkan rindu ini, namun entah kepada siapa? Jika hati pun tak tahu siapakah yang pantas untuk dititipkan rindu, menakarnya saja sudah tak mampu. Rindu ini acapkali tak tahu tempat, hinggap begitu saja meski enggan bersua dengannya.

Perasaan apa yang paling menyiksa di dunia ini? Mungkin saja rindu yang tak tahu harus dititipkan kepada siapa. Bolehkah aku meminta denganmu untuk menitipkan rindu ini barang sejenak saja. Mungkin satu detik, dua detik, sepuluh detik. Tak masalah meski hanya sesingkat itu, sesingkat hembusan angin yang datang hilir mudik kemudian bergegas melancong pergi.

Rindu menjejak dalam jarak, apakah yang mampu mempersatukan rindu? Aku tak tahu menahu mengenai hal tersebut. Aku hanya tahu aku sedang rindu, hanya itu. Meski ragu, meski rembulanmu seakan tak ingin memberikan pencerahan melalui cahaya lembutnya. Lagi-lagi, rindu ini milik siapa?

Rindu menjejak dalam jarak, beratus-ratus kilometer mungkin. Tak kuasa mengabarkan rindu kepada siapapun. Ahh, rindu ini memang sangat keterlaluan. Menghindar sekeras apapun, tetap datang melengkat di bilik hati ini, dihembusan nafas, di detik waktu yang bergulir. Aku tak ingin jika rindu ini berubah menjadi pahit, menghancurkan rasaku ketika tak kudapati seorang yang tak dapat kutitipkan rindu.

Hanya rindu. Iya, hanya rindu, secarik rasa mungkin yang enggan beranjak pergi. Rindu ini milik siapa? Untaian doaku saja yang melanglang buana menembus langit, untuk dia yang ingin kutitipkan rindu ini. Berdosakah jika aku mengharapkan engkau bersedia kutitipkan rindu ini?

Echi Sianturi
Dini Hari

2 comments:

naurah kida said...

aku suka puisinya kak :)

Desi Sianturi said...

Terimakasih Naurah :)