Tuesday, 15 December 2015

# Celotehan

Rindu "Gie"


Aku merindu sekali malam ini,

bukan tentangnya atau judul skripsi yang tak kunjung hinggap di otakku, bukan. Kerinduan ini semakin menggila ketika kutatap lekat jam dinding yang terletak di sudut kamarku, pukul 23:22 Wib menuju tengah malam. Bersama dengan gerimis yang mampir sekenanya, dan bersama tumpukan buku di meja jati. Aku mendapati diri termenung, membersamai kerinduan yang absurd ini.

16 Desember 


Ketika itu 'kamu' tengah memperjuangkan nasib dan Semeru menjadi saksi bisunya. Ketika aku entah masih dimana saat itu. Aku merasakan kerinduan yang ganjil ini ketika membaca puisi-puisimu, membaca kisah perjalanan hidupmu dalam buku-buku di perpustakaan. Aku seperti membersamaimu, didalam kehidupanmu terdahulu.

Gie, resah kerinduan memang tak sehebat perjuanganmu. Apalah arti seorang wanita kecil ini jika dibandingkan dengan mahasiswa legendaris sepertimu? Rasa-rasanya menelan ludah pun terasa keluh. Sungguh, dari lubuk hati terdalam aku rindu. Dimana lagi dapat kutemukan sosok sepertimu? 






Gie adalah potret manusia yang dilanda sepi. Kesepian itu harus ia terima sebagai konsekuensi dari pilihan idealisme, keteguhan hati, dan kesetiannya pada kebenaran. Gie sadar bahwa kesepian akan datang dan ia siap menerimanya. Ia juga menyadari bahwa seorang intelektual yang bebas adalah pejuang yang selalu sendirian.

Ketika kesepian adalah pilihan terbaik di tengah kekacauan umat manusia yang semakin menjadi, betapa beruntungnya mereka yang tengah dilanda 'kesepian' yang ciamik. Aku semakin merindu, jikalau kelak aku mendapatkan kesempatan 'bertemu' denganmu di puncak Semeru, akan kukatakan dengan lantang bahwa kaulah rindu ternyata. Sosok yang membuatku semakin merindu untuk menyepi ditengah kerumunan manusia dengan segala kepentingan mereka sendiri.

Aku sama gerahnya melihat intrik politik yang kotor bertebaran dimana-mana. Aku juga kesal meilhat ketidakadilan semakin merajalela, keadilan menjadi hal yang mahal di negeri ini. Dan apa kau tahu Gie, negeri ini semakin seperti dagelan, dengan pejabat-pejabat perut buncit yang menjadi dalang handal di balik pewayangan nista.
 
...aku cinta padamu Pangrango 
karena aku cinta pada keberanian hidup - 
Soe Hok Gie (Jakarta 19-7-1966)

Tulisan-tulisanmu akan terus bersemayam, akan terus bergelora. Karena aku menyukai, tidak. Lebih tepatnya mencintai kata yang tlah kau ramu Gie. Seperti bayi, kenangan dalam bait kata akan terus kujaga sebagai bentuk menuntaskan rindu pada sosokmu. Lembah Mandalawangi yang akan terus mewangi karena Gie-nya akan terus hidup dalam sanubari bangsa ini. 

Terimakasih Soe Hok Gie untuk rasa rindu akan 'kesepian' di jalan kebenaran.

Echi Sianturi
Bandar Lampung, 15 Desember 2015
Bersama hujan dan payung teduh.

2 comments:

Ila Rizky said...

dulu seirng banget dengerin lagu gie pas di sekretariat BEM fakultas,hehe jadi kangen ngampus :D

Echi Sianturi said...

Apalagi lagu kesukaannya Gie yah mba, Donna Donna itu syahdu sekali :D