Friday, 1 January 2016

# Prosa Singkat

HuJanuari


"Menurut Sapardi, tak ada yang lebih tabah dari hujan di bulan Juni. Namun, bagiku hujan di bulan Januari lebih terasa tabah", ungkap lelaki berkacamata di pojok kedai kopi. Kacamatanya berembun, sesekali merosot kebawah. Hujan beradu sengit dengan alunan musik klasik Chopin, sama-sama mengalun merdu dan syahdu.

"Sudah kukatakan berulang kali menurutku tak ada yang lebih tabah dari hujan di bulan Januari", desah lelaki itu lagi. Wanita dihadapannya hanya mampu melisik wajah gundah lelaki berkacamata, ada bias sendu yang tak mampu dijelaskan. 

Hujan awal tahun masih setia mampir sekenanya, meski hanya sekedar membasahi tanah tandus dan meninggalkan bau tanah basah yang tercium keudara, "Tak ada yang lebih tabah daripada penantianku selama ini, kawan", desah lelaki sembari meminum kopinya yang mulai dingin hingga tandas.

"Aku menyembunyikan rindu ini hingga berkarat, aku terlalu tabah menanti. Sungguh terlalu tabah, hingga hujan di Januari tak kurasa lagi mesranya", lelaki itu terdiam sejenak. Dia memandangi cangkir kopinya yang tlah habis, kemudian menggigit bibirnya pelan. Butiran air jatuh dengan pasrah dari kedua kelopak matanya yang menghitam, dia hanya mampu menertawai dirinya sendiri.

"Sudahlah, jangan terlalu mengumpat. Bukankah dulu kamu sering mengatakan jika kamu paling menyukai hujan di bulan Januari?", tanya wanita berambut panjang nan hitam itu.

"Semuanya telah berubah sekarang", jawab lelaki masih dengan kegamanganya.

"Karena dia? Wanita yang telah kamu nanti selama ini", selidik sang wanita.

"Iya benar. Aku menantinya lebih tabah dari yang lain. Aku tlah memilihnya namun dia tidak memilih diriku. Hal itu sudah cukup membuatku muak dengan hujan di Januari", umpat lelaki. Matanya memerah, keringat mengucur dari pori-pori wajahnya. Dia menutup matanya, menghindari pandangan dari titik-titik air hujan yang masih setia menggembiri malam.

"Jika kamu membenci hujan karena penantianmu yang tak sampai, bagaimana dengan aku yang selama ini juga menantimu? Saat ini aku harus mendengarkan celotehanmu tentang dia? Apakah aku juga harus membenci hujan di Januari", ungkap wanita tertahan. Hujanpun ikut turun membasahi wajah jelitanya, kedua telapak tangannya berusaha menutup wajahnya yang gundah. Masih dengan secangkir kopi hitam yang asapnya sudah tak lagi mengepul. Menuju dini hari, disudut kedai kopi dengan segala rahasianya. HuJanuari.

tak ada yang lebih tabah dari hujan di Januari
tak ada yang lebih tabah dari pada penantianku selama ini
benarkah?

@echisianturi
Bandar Lampung
penantian seseorang kepada seseorang yang dinantinya. Dengan sangat tabah, bijak, dan arif ia menanti. Dengan merahasiakan segala rindunya, menghapus segala keraguannya dalam menanti. Akhirnya penantiannya berbuah manis. Ia mendapatkan seseorang yang dinantinya tersebut. Karena begitu tulusnya perasaan seseorang tersebut ia membiarkan tak terucapkan segala apa yang ia rasa selama menanti.

Sumber :http://www.smansax1-edu.com/2014/11/makna-puisi-hujan-bulan-juni.html
penantian seseorang kepada seseorang yang dinantinya. Dengan sangat tabah, bijak, dan arif ia menanti. Dengan merahasiakan segala rindunya, menghapus segala keraguannya dalam menanti. Akhirnya penantiannya berbuah manis. Ia mendapatkan seseorang yang dinantinya tersebut. Karena begitu tulusnya perasaan seseorang tersebut ia membiarkan tak terucapkan segala apa yang ia rasa selama menanti.

Sumber :http://www.smansax1-edu.com/2014/11/makna-puisi-hujan-bulan-juni.html

No comments: