Monday, 6 February 2017

# Prosa Singkat

Karang Pantai yang Kesepian


Gemuruh ombak terdengar tepat di gendang telingaku. Rasanya seperti badai yang akan datang, bersiap melumat tubuhku ke laut lepas. Aku pun mulai mengigil, menutup kedua telinga, berharap tak ada suara-suara aneh yang terdengar. Sabtu sore, di sebuah kota kecil di ujung pulau yang sepi. Hanya ada karang-karang besar di bibir pantai, karang-karang yang kesepian. Karang yang selalu tabah, terhempas oleh ombak dan lambat laun mulai terkikis. 

Kutatap jauh karang-karang yang nampak menyedihkan itu. Hatiku bergejolak, entah mengapa ada rasa sakit setiap kali melihat karang-karang. Lalu, langit seperti terbelah di atas kepalaku, terpisah menjadi dua bagian. Ada sekat yang memisahkan kemudian sesosok bayangan turun. Tak tahu pasti apa, mungkin saja malaikat pencabut nyawa. Pakaian serba hitam dengan tutup kepala yang menutupi sebagian wajahnya. Aku hanya mampu melihat kilatan cahaya dari matanya saja. Lalu hening, hanya desiran angin laut yang terdengar dan pasir-pasir yang tersapu ombak.

Sosok misterius itu terlihat kesepian, layaknya karang yang sering kulihat setiap hari. Berdiri termenung di pinggir pantai. Aku harap-harap cemas jika langit segera menyatu kembali dan membawa serta merta sosok hitam misterius yang ada di hadapanku. Gigiku mengeluarkan bunyi-bunyian, pertanda bahwa aku sangat takut. Takut sekali, hingga tak mampu selangkah pun aku pindah dari posisiku. Langit tetap sama dan jantungku tetap berdegub kencang. 

Aku teringat dengan orang-orang kesepian seperti batu karang di pantai. Aku mungkin salah satu dari sekian banyak karang yang ada di pantai. Sepi dan hanya mampu bertahan untuk dapat tetap berdiri di atas kaki sendiri. Walau ratusan, ribuan kali ombak ganas menghempaskan karang, mau tak mau karang pantai harus tetap tegar. Karena bukan hidup namanya jika biasa-biasa saja. Ombak yang bisa kusebut sebagai masalah itu, membuat aku goyah bahkan terjatuh. Tapi, apakah hanya ada kesedihan yang dibawa olehnya? 


Jam di tangaku sudah menunjukkan pukul lima sore. Mendung, langit masih tetap terbelah. Aku berusaha lepas dari jerat ketakutan yang memborgol hatiku selama ini. Kukumpulkan segenap keberanian yang kupunya. Tak ingin ada sesal lagi nantinya. Aku berjalan, celanaku basah oleh air laut yang mulai pasang. Sosok misterius masih tetap diam tak bergeming. Batinku berteriak, berharap sosok misterius itu beranjak dari tempat ia berdiri sekarang.

"Apakah kau juga kesepian?", ungkapku dalam hati. Ia masih tetap terdiam bak karang pantai dan langit masih tetap terbelah di atas kepalaku.

Echi Sianturi
Yogyakarta,
awal Februari 2017.

1 comment:

Anonymous said...

sosok misteriusnya itu siapa yah kak?