Wednesday, 8 February 2017

# Prosa Singkat

Percakapan Malam

 
Pukul tiga dini hari.
 
Titik nol kota Yogyakarta hening. Hanya lampu-lampu jalan yang masih ceria, terang-benderang dan beberapa anak muda yang masih duduk di pinggir jalan. Percakapan malam masih berlanjut bersama dengan rembulan yang malu-malu menggantung di langit. Cahaya temaramnya membuat perasaan kesepian sedikit terobati. Ada kelembutan yang terpancar di dalam cahayanya. Mengisi hati yang tlah lama kosong, di salah satu bilik yang sudah usang tinggalkan oleh pemiliknya terdahulu.
 
Seorang wanita muda berkepala dua, merenungi nasibnya yang dilanda sepi. Rasanya semua yang ia raih hingga kini hanya hambar yang didapat. Ada satu hal yang ia rasa kurang, namun ia belum mampu menerka hal yang kurang dalam dirinya. Mungkin saja karena tak ada hadirnya pemilik salah satu bilik yang ada di hatinya. Bilik yang sudah lama sekali tak berpenghuni. Hingga setiap malam tiba, ia melakukan percakapan dengan malam. Entah, hanya sekedar bergurau dengan malam, atau menunggunya pergi hingga pagi yang datang menyambut.
 
"Apakah malam mampu merasakan resah dan sepi yang ada di dalam hatiku ini?", tanyanya pada suatu malam di akhir bulan Januari yang basah. Malam terdiam, tak dapat memberikan jawaban apapun sampai pagi menggantikannya. Wanita yang dilanda kebingunan akan hatinya sendiri. Sosok lelaki yang ia harapkan hadir di dalam kehidupannya. Saat bahagianya ketika menyelesaikan pendidikan tinggi, saat satu per satu impiannya mulai menunjukkan hasil yang baik. Saat ia sedih karena merindukan keluarga, rumah yang hangat, saat ia berada di titik terendah dalam hidupnya. Saat ia ingin menyerah kepada keadaan yang menghimpitnya.
 
Ia tetap bercakap-cakap dengan malam, meski tak satu pun saat malam menjawab segala resahnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Ia hanya menginginkan malam untuk mendengar teriakan hatinya yang gundah gulana. Setiap kesempatan yang ada bersama dengan secangkir kopi hitam yang pahit dan cemilan malam. Ia akan terus berceloteh tentang kecewanya, harapannya.
 
"Aku tak ingin menjadi Monte Carlo yang menyimpan dendam selama bertahun-tahun", ungkap wanita itu pelan di tengah percakapan malamnya.
 
Ia mengikat rambut panjangnya, sembari membenarkan anak-anak rambut yang menutupi jidatnya. "Akan begitu menyedihkan jika hidup dengan menyimpan dendam. Melihatnya bahagia memang membuat darahku mendidih, laki-laki yang tak tahu caranya berterima kasih. Menari-nari di atas penderitaan orang lain", ujarnya lirih. Asap kopi menggepul dari cangkir berwarna krem tersebut. Malam masih diam, seperti waktu-waktu lampu, tetap menjadi pendengar setia.
 
"Kehidupan memang begini adakah? Ketulusan dibalas dengan pengkhianatan yang perih. Rasanya tak hilang walau waktu sudah berganti tahun demi tahun", timbalnya lagi. Tangannya memainkan cangkir kopi yang mulai mendingin. Angin masuk dari celah-celah ventilasi, memainkan tirai di ruang tengah. 
 
"Percuma saja kupercayakan hati, jika pada akhirnya hanya akan disia-siakan. Dibiarkan hancur berkeping-keping, seperti sampah yang tak berguna. Butuh waktu yang lama bagiku untuk mengumpulkan keping demi keping hingga  tersusun kembali". Bisik wanita yang setia dengan malam itu. Detak  jam dinding terus terdengar, meninggalkan detik demi detik, menit demi menit masa lalu.
 
"Aku baik-baik saja, pada akhirnya aku memilih untuk bahagia tanpa dirimu", kalimat terakhir sekaligus penegas terlontar dari bibir mungilnya pada percakapan malam itu. Malam tetap sama, tak menjawab apapun celotelahannya. Hanya mampu menjadi pendenger setia bagi wanita yang pernah tersakiti hatinya, dan berharap suatu saat nanti akan ada sosok lelaki bertanggung jawab mengisi bilik hatinya yang tlah lama kosong.

Echi Sianturi
Yogyakarta, 2017.

No comments: