Sunday, 17 September 2017

# Celotehan

Perjalanan Panjang


Ketika dirimu lelah melangkahkan kaki untuk meneruskan perjalanan hidupmu yang panjang, dan tak tahu kapan akan berujung, temuilah aku meski hanya dalam bayang ilusimu. Biarkan semua beban rebah dipundakku yang kecil ini, bagilah rasa sakit, kecewa dan khawatirmu untuk sekedar meredakan jiwa yang tengah berkecamuk murka. Dunia memang tak akan pernah ada habisnya untuk kita perbincangkan, setiap perjalanan yang tlah dilalui akan melahirkan cerita-cerita baru yang tak akan hilang dari ingatan. Siklus kehidupan yang kadang membuat kita mau tak mau harus menerimanya, menelan pil pahit kenyataan hidup. Bahwa mungkin saja tak ada keadilan di dunia ini, jika dirimu tersadar keadilan adalah wahyu dari langit, hal yang kadang dan sering kali tak dapat kita jangkau. Apalagi bagi mereka dengan tangan-tangan yang lemah tanpa kekuasaan.

Bukankah kehidupan memang perjalanan panjang yang harus dan akan kita lalui, hingga kita benar-benar menyerah dan ingin mengakhirinya saja. Seperti dirimu kini yang tengah tertunduk lesu, membasuh airmata kemudian berusaha untuk menenangkan diri sendiri yang sedang kalut. Kau berteriak mengelurkan seluruh beban yang kau coba untuk simpan sendiri, ke kemudian memaki segala hal yang tak wajar yang ada di dunia ini. Segalanya, segalanya. Segala tentang keadilan semu yang diagung-agungkan oleh mereka yang menyebut diri sebagai pembawa keadilan, namun kau tahu pasti mereka hanyalah sekumpulan orang-orang pecundang yang bersembunyi dibalik topeng yang mereka rancang sendiri.

Ya. Siapa yang nyaman dengan keadilan yang hanya sebatas ilusi indah itu. Perjalanan demi perjalanan panjang yang kau lalui selama ini, membuka kedua matamu yang memang sudah tebuka lebar sejak awal, namun tak mampu menyaksikan keadaan yang sebenarnya. Semakin kau mengetahui dunia ini hingga keakarnya, semakin sesak dan tak sanggup pula dirimu untuk memikulnya. Mengapa? mengapa tak berpura-pura tak tahu saja, jika keadilan yang diperjuangkan tak semuanya murni karena rasa iba. Bukankah banyak yang lebih memilih jalan tersebut daripada mereka harus memendam rasa yang tak terobati sakitnya hingga akhir hayat mereka. Berpura-pura tidak tahu saja, kemudian lanjutkan perjalanan panjangmu dengan berpura-pura tidak tahu jika keadilan di dunia ini bagaikan menunggu wahyu dari langit.

echisianturi
somewhere over the rainbow, 2017

No comments: