Tuesday, 23 February 2016

# Komunitas # Puisi

Kumpulan Puisi "Membumikan Langit"


Ini buku puisi orang-orang hampir waras yang menuntut “kamu” untuk bisa menempatkan diri menjadi “aku”. Untuk langit yang amat kekar dan bumi yang semakin terlihat sungkan.
@holaspica


– – – – – –

Toh langit sudah memberi jarak kepada bumi,
bukan berarti setiap bagian dari tubuhnya tidak meronta.
Ia kerap berkeluh kesah melalui nyanyian pemimpi,
kerap mengirimkan pesan lewat deburan ombak ke kapal kecil,
kerap melafalkan namanya melalui bekuan di karakoram.
Mengandaikan menjadi pendar diantara mawar,
yang takkan terhanyut bersama sendu malam.
Dan tak lupa,
tetap melagukan doa kepada-Nya ke dunia yang lupa akan jalan pulang,

Dan suara itu akan berlanjut,
bersama lembaran yang kamu buka pelan-pelan,

celakalah langit jika kamu masih tidak tunduk!

Romansa Tanah

Aku ingin menjadi tanah
Dimana engkau yang menjadi pohon tumbuh
Agar kelak aku bisa memeluk daunmu
Yang terhempas percintaanmu dengan angin

Aku ingin menjadi tanah
Yang melayani akarmu
Memberimu sumber hidup
Walau aku tak kuasa berbuat apapun ketika manusia menebangmu

Kelak, aku masihlah tanah
Dimana engkau yang menjadi kertas terbawa angin
Jatuh padaku yang tengah gembur oleh rindu
Dan tak mampu lagi mengenalimu.

Equilibrium

Aku sang pemimipi yang sedang penat
Namun tak pernah sekalipun ingin berkhianat
Terlebih ketika hadirmu senja itu masih melekat
Kau bercerita banyak hal agar impianku tidak sekarat

Bincang kedua di sebuah kedai
Katamu, tak ada malam yang tak diusaikan pagi
Tak ada mimpi yang hanya selamanya mimpi
Kau membawaku pada sebuah equilibrium realitas dan sepotong mimpi

Pada equilibrium itu, kita berlari sambil berdansa
Pada equilibrium itu, kita menangisi  tawa
Pada equilibrium itu, kita merayakan duka
Pada equilibrium itu, kita usaikan lara

@galihaditya
 (Galih Aditya)

Sisa Asa yang Terhempas

Nyanyian hatimu sungguh membuatku tenang dan damai
seolah kau buka hatimu seutuhnya untuk kisah yang telah datang
menenangkan jiwa yang gelisah
gelisah atas kisahmu, kisahku yang dikisahkan kian sama.
Hal yang sama juga kita lakukan.
Ombak dipantai yang kita tunjuk begitu mengagumkan
katamu; ombak tersebut terlihat saling memiliki satu sama lain
berdiskusi dengan merdu bersama angin laut
meski dihantui masalah ia tetap memperlihatkan ketenangan
seolah tenangnya mempersilakan kapal-kapal kecil melaut tanpa dihantui badai.
Saat itu juga ada tanya yang tak sengaja,
tentang celoteh isi hati yang engkau tanyakan kepadaku
membuatku bingung kepalang tanggung
Bahkan angin membisik; kepadaku, yang masih tampak malu menjawab
tentang aku yang kian terperangkap malu, untuk mengaku jatuh hati kepadamu
terperangkap malu, menyeberangi samudera dengan perahu kecil menggapai KAMA
Didalam lukisan pasir pantai yang tampak putih, seolah tanpa noda hitam sedikitpun
dalam senja usai pertemuan kita
aku mencoba untuk menjawab?
mengakui isi hati tanpa sedikitpun merangkai kebohongan
meski dengan isyarat yang aku coba menerka; perjudian untuk menggapai KAMA.
Dan jika terkaanku salah? habislah sudah
seperti kapal kecil yang akan menghadapi badai dan terhempas ditengah laut tenang
terkaan yang salah atas ketenangan laut
seperti pertaruhanku yang salah menerka ketenangan hatimu.
Sampai waktunya yang telah ku jawab; terkaan salah yang semakin menyudutkanku.
Seperti kapal kecil yang kian menghadapi ombak dengan badai tenangnya laut
semakin kalut dan mengusik mimpi yang telah dirajut.
Dengan sisa asa yang terhempas
aku masih bisa tersenyum dan tertawa
menenangkan sisa jawabanmu atas jawabanku yang justru buatmu menangis
seolah kau ciptakan badai dalam lautmu sendiri
dan menenggelamkan kapal kecil yang kau diamkan berlabuh.
Meski dengan sisa asa yang terhempas
kapal kecil yang tenggelampun masih dapat kembali diperbaiki
begitupun tentang hati untuk menggapai KAMA
untuk itu aku tak akan biarkanmu menangis lagi
tak akan mendiamkan ketakutanmu pada malam.

Badai Dalam Secangkir Kopi

Hendak ingin memiliki
tapi takut.
Karena aku tak bisa menikmatinya.
Hanya mampu mencium aroma khasnya.

@Yoga_Pratama_Goy
(Yoga Pratama)

Saat Hati Bergidik

Pada malam yang mendung kita bertemu, aku mengurai rindu dan lari dari pilu
Tanganku kau raih, lalu kau pandang aku dengan mata elang, menukik ke dasar hati, mencabik tenggorokan dan aku sesak
Di halaman senyap dan lembab, nuri singgah di ranting mawar, seekor kucing mengendus ragu
Lalu kilat menyentuh ujung jari, terbakar ke ulu hati, membatasi mimpi
Kau mendekat dan mendekap, suara nafasmu adalah hujan di kerongkongan
Aku tenggelam dalam pusara, hanyut pada lamunan kemudian menguap bersama wangi rambutmu
Ruang jadi temaram, denyut nadi sempat terhenti
Sementara aku bersiap mencumbumu seketika waktu berubah beku
Lalu kita berubah menjadi pendar-pendar diantara bunga mawar

Kangen

Saat ini yang kita rasa adalah manifestasi dari genggaman yang erat
Kau gagal menjelma angin, dan aku gagal menjelma dedaunan–Kita seperti terkurung pada labirin di belantara Amazon, di kaburkan oleh fatamorgana di jantung Sahara, dipisahkan oleh bias nebula di cakrawala

Di Uhuru Peak, dua teguk coklat menyelimuti dataran dingin, gradasi langit sirna dalam secangkir kayu, sepasang Yeti ingin pergi kesini, menjemur badan kala matahari menyingsing di penghujung musim kawin

Di meander sungai Yangtze kau gelisah hingga ujung-ujung rambutmu merampas salju dari Himalaya, aku berdiam di Kashmir menunggu dewa turun dari Nanga Parbat, seutas gletser menuruni lereng, shikara menepi di danau Dal, sebuah tembang berkumandang selepas azan

Di ketinggian lebih dari lima belas ribu kaki,
rindu kita menjadi salju musim beku di punggung Karakoram,
kita diterpa beku, sampai sayap elang enggan membentang, dan kita hanya butuh pelukan. 
                                                  @nando_reef
                                     (Refitra Fernando)

Menjamu Waktu

Pekatnya malam ini seperti ingin meringkuk didalam balutan selimut,
guling yang seakan tak pernah pergi serta setia memberikan pelukan terhangat.
Aku ingin mencumbumu lewat waktu yang seandainya bisa berhenti sejenak saja,
untuk menikmatimu dengan sejenak,
dengan hitungan detik,
dengan hanya isyarat yang mampu kukirimkan lewat aroma tubuhmu yang seperti candu.

Menjamu waktu,
ya mungkin seperti itulah caraku berterima kasih pada waktu.
Karena dengan mudahnya dan perannya aku bisa menikmatimu dengan sepuasnya walaupun akhirnya aku tahu ini jelas berbatas.

Aku menjamunya dengan sekelopak mawar dan rintikan hujan setiap malam sebagai teman rindu kala waktu ingin bertemu.

Kamu tahu,
aku hanya cukup menikmatimu dengan cara seperti ini saja,
lewat waktu yang seperti ini saja.

Dan juga kamu tahu,
aku cukup mencintaimu dengan seperti ini saja.

Seperti hujan yang setia menerpa wajah dan tanganku.
Seperti secangkir kopi yang menemani meski jelas aku tak bisa menikmatinya.
Seperti aroma hujan dan coklat yang selalu aku nikmati.
Seperti kamu yang mampu aku gapai sebatas waktu karena bertamu tanpa rindu.

Dan juga kamu,
seperti surat-surat cinta yang aku tulis setiap malamnya namun hanya mampu ku simpan di dalam otakku.
Hanya seperti itu….kamu.

@ flagadindy
(Flaga Dindy) 

Paradoks Dunia

Ikarus tak mampu menantang matahari yang melelehkan sayapnya
menjatuhkan ke bumi tempat seyogyanya ia berpijak
dan kotak pandora pun hanya mampu menghadirkan malapetaka.

Mungkin hanya dewa-dewa di Olympus yang tahu
mengapa dunia semakin tak ramah.
Zeus memperhatikan dari langit dan berbisik,
“Manusia semakin tak menghargai semuanya.”
Apa-apa yang melekat didalam diri manusia menjadikanya angkuh
tak terelakan melebihi Archiles.

Orang-orang berasumsi,
mereka mampu bertahap hidup dengan oksigen yang mereka ciptakan.
Orang-orang beranggapan,
bahwa mereka mampu menciptakan kehidupan dalam diri sebuah robot.

Semesta menyaksikan matahari, bulan, bintang, nebula dari seluruh galaksi
manusia tak sekenanya hidup untuk dia yang menciptakan
manusia lebih memilih hidup untuk dunia yang mereka ciptakan sendiri.

Perang Troya mempertontonkan perebutan wanita
perang dunia menyebabkan jutaan nyawa melayang begitu saja
pogahnya manusia akan dunia fana dalam benak mereka
hingga tak mampu membuat jiwa-jiwa ringkih menguasai logika.

Orang-orang sering membaca kisah
tentang Ariel si peri kecil yang tak kasat mata
namun mereka tetap tak memainkan nurani.
Jika ada utusan-Nya yang juta tak kasat mata.

Paradoks tentang dunia
semata-mata hanya membangkitkan gairah melupakan kehidupan selanjutnya.

@echisianturi
(Echi Sianturi)

Malam, Alam, dan Petikan

Malam yang ditunggu datang
Dan kali ini tak sendirian
Ia membawa gerimis dan angin kencang,
Namun disertai hangat
Ia membawa keramaian dan kegembiraan,
Namun disertai kekhusyukan
Ia juga membawa kesenduan dan kepiluan,
Namun tak menghilangkan kebahagiaan
Wahai malam,
Terimakasih telah datang menyediakan waktu yang berharga ini
Wahai alam,
Terimakasih telah menyediakan tempat untuk bersendu  dan bergurau
Dan untuk alunan petikan gitar yang mendukung sendunya malam bersama alam,
aku sakit, karenamu.
(Ratna Dwi Fitriana)

Hadiah Untukmu Belajar

Kemarin sore, ada bulan yang tersesat di
langit yang hujannya membuat tanah
di bumi terbang-terbang berebut mengantarkannya
pulang.

Tadinya, ingin kukantongi
bulan itu ke dalam keresek hitam yang aku temukan
di persimpangan tempat kita dulu bertemu supaya
tidak lepas-lepas kuningnya
dilihat orang

karena bulannya kubungkus hanya
untukmu sayang. Hanya kau
yang boleh menatapnya hingga nanar.
lalu matamu buta

dan kau percayakan aku untuk simpan
bulan yang sudah kau cumbui itu di sebuah toples bekas
kue lebaran ibumu. Lalu kubilang iya dan
kukecup keningmu sambil saja lepaskan
bulan untuk kembali pulang.
supaya kau belajar
bahwa semua yang indah, lebih sering tercipta bukan untuk dimiliki.

 @dheanadhiak
(Nadhia Khairunnisa)
  
Thanks To ;

Syukur Alhamdulillah senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang memiliki keistimewaan dan pemberian segala kenikmatan besar, baik nikmat iman, kesehatan dan kekuatan didalam penyusunan Kumpulan Puisi “Membumikan Langit”. Salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad SAW. keluarga dan para sahabatnya, dan penegak sunnah-Nya sampai kelak akhir zaman.

Pada kesempatan ini, penyusun menyampaikan rasa terimakasih kepada founder Malpus Bandar Lampung Muntia Hartati dan seluruh anggota Komunitas Malpus Bandar Lampung yang terus berjuang mensyiarkan nada-nada puitiknya, dan terus berjuang menggaungkan puisi untuk tetap eksis berkibar dikalangan muda-mudi, dan semua golongan baik di Bandar Lampung, sampai keseluruh penjuru Lampung.

Terimakasih juga disampaikan kepada pihak-pihak yang mampu merealisasi suatu bentuk leburan baik yaitu kolaborasi, dengan terbitnya Kumpulan PuisiMembumikan Langit” dan gelaran Malam Puisi “Membumikan Langit”  yang diselenggarakan pada 12 Februari 2016, Yakni, teman-teman penyair Komunitas Malam Puisi Bandar Lampung, Web Media Lampungnese (VED-BVP), Zine R.A.C.U.N (Abib, Nano, Sofia, Oi, Sasax, Panji), Mustofa, Deka, Union cafe, Karas cream dan segenap bala bantuan lain yang telah memungkinkan ketidakmungkinan prosesi kolab rasa, dari konsep awal diskusi hingga pelaksanaannya di ibadah tahunan Malam Puisi. Begitu juga dengan pejabat-pejabat provinsi, kabupaten, dan kota yang bersedia mendukung kegiatan Komunitas Malpus Bandar Lampung. 

Komunitas dituntut terus kreatif dan meresapi makna kolaborasi dalam menghasilkan suatu karya, bukan hanya sekedar kegiatan fisik, bertemu saling melontar senyum masam, tetapi menyapa, peduli, saling berbagi, guyub, mulai bersatu dalam menyuarakan kebaikan, bagi individu itu sendiri, kelompok, dan juga sekitar. Meski mengekspresikan dengan berbeda cara dan media, diharapkan kegiatan kolaborasi berbeda komunitas, mampu membangun karya-karya istimewa, menampik sistem “piil pesenggiri, dan bauran baru bermutu yang menambah katalog seni dan keterampilan di Bandar Lampung.

Meski harus beruang waktu, berbatas tempat, dan dalam kondisi sempit pendanaan, kepanitian, setidaknya setiap bulanya telah diusahakan sebuah acara yang mengaggumkan untuk Puisi terus bergaung di Sai Bumi Ruwa Jurai ini. Semoga, dengan terbitnya Kumpulan PuisiMembumikan Langit” dan gelaran Malam Puisi “Membumikan Langit” melenggang tanpa melanggar garis besar norma-norma sastra puisi. Maka, maklumilah, dan semoga berhasil menarik garis merahnya.

Penyair : Komunitas Malpus Bandar Lampung
Editor  : VED (@holaspica)
Artwork Cover : Habib surya (abibbab)
Layout : Deka (@dekavivi)

Kumpulan Puisi “Membumikan Langit”
12/02/2016

No comments: